Daftar Blog Saya

Sabtu, 08 April 2017

Testimoni Perkuliahan Psikologi Pendidikan

TESTIMONI PERKULIAHAN
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
KELAS C

            Mata kuliah Psikologi Pendidikan dimulai dari semester 2, mata kuliah ini memberikan saya banyak informasi/ilmu tentang bagaimana psikologi melalui pandang pendidikan, siapa saja tokoh-tokoh dalam psikologi pendidikan dan lain-lain. Juga ada pelajaran mengenai pendidikan multikultural yang mengajarkan kami untuk menghargai perbedaan dalam pendidikan maupun dalam kehidupann sehari-hari. Dalam mata kuliah ini, dosen menggunakan media blog untuk mahasiswa yang kemudian tugasnya di post ke blog. Dosen juga memberikan kami tugas observasi ke sekolah-sekolah dan mengobservasi keadaan kelas.

            Dosen juga memberikan kami tugas resume mengenai pelajaran yang kami pelajari selama kuliah, dan di akhir kuliah sebelum ujian tengah semester juga harus memberikan testimoni perkuliahan.


            Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada dosen psikologi pendidikan yang telah membimbing dan mnegajarkan kami banyak ilmu mengenai psikolgi pendidikan. Semoga ilmu-ilmu yang kami dapatkan selama masa kuliah ini bermanfaat baik dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. 

Kamis, 06 April 2017

Motivasi, Pengajaran, dan Pembelajaran

BAB 13
MOTIVASI, PENGAJARAN, DAN PEMBELAJARAN

Apa Itu Motivasi?
            Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energy, terarah dan bertahan lama.

Perspektif tentang Motivasi
            Perspektif psikologis menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula. Ada empat perspektif: behavioral, humanistis,kognitif dan sosial.
            •Perspektif Behavioral, menekankan imbalan dan hubungan eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Intensif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid.
            •Perspektif Humanistis, menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif.
            •Perspektif Sosial, motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman.


MOTIVASI UNTUK MERAIH SESUATU

Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman.
Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).

Pengalaman Optimal
            Mihaly Csikszentmihalyi juga mengembangkan ide yang relevan untuk memahami motivasi intrinsic. Dia mempelajari pengalaman optimal dari orang-orang selama lebih dari dua dekade.

Proses Kognitif Lainnya
            Diskusi tentang motivasi ekstrinsik dan intrinsic di atas membuka jalan ke pengenalan proses kognitif lainnya yang terlibat dalam memotivasi murid untuk belajar. Saat kita membahas empat proses kognitif lainnya, perhatikan bahwa perbedaan motivasi ekstrinsik dan intrinsic tetap penting.
Atribusi, Teori Atribusi, menyatakan bahwa dalam usaha mereka memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang-orang termotivasi untuk menemukan sebab-sebab yang mendasarinya. Atribusi adalah sebab-sebab yang dianggap menimbulkan hasil.

Motivasi untuk Menguasai, yang berhubungan erat dengan ide tentang motivasi intrinsik dan atribusi adalah konsep motivasi penguasaan (mastery motivation (Jennings & Dietz, 2002) ). Para periset menyebut penguasaan ini sebagai salah satu dari tiga tipe orientasi prestasi: penguasaan, tak berdaya, dan kinerja. Anak dengan orientasi untuk menguasai akan fokus pada tugas ketimbang pada kemampuan mereka, punya sikap positif (menikmati tantangan), dan menciptakan strategi berorientasi solusi yang meningkatkan kinerja mereka.

Orientasi Tak Berdaya (helpless orientation) berfokus kepada ketidakmampuan personal mereka, sering kali mereka mengatribusikan kesulitan mereka pada kurangnya kemampuan, dan menunjukkan sikap negatif (termasuk kejemuan dan kecemasan).

Self efficacy, (keyakinan diri sendiri) menurut Bandura, yakni keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hal positif. Bandura percaya bahwa self efficacy punya kesamaan dengan motivasi untuk menguasai dan motivasi intrinsik. Self-efficacy adalah keyakinan bahwa “aku bisa”, ketidakberdayaan adalah keyakinan bahwa “aku tidak bisa”

Kecemasan dan Prestasi
Kecemasan (anxiety) adalah perasaan takut dan kegundahan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan. Normal jika murid kadang merasa cemas atau khawatir saat menghadapi kesulitan di sekolah, seperti saat akan mengerjakan ujian. Beberapa anak mengidap kecemasan tingkat tinggi lantaran orang tuanya membebankan standar prestasi yang tidak realistis pada diri anak mereka. Banyak anak yang merasa bertambah cemas saat mereka naik kelas, karena mereka mengahdapi lebih banyak ulangan, perbandingan sosial, dan beberapa kegagalan.


MOTIVASI, HUBUNGAN DAN KONTEKS SOSIOKULTURAL

Motif Sosial
            Motif sosial adalah kebutuhan dan keinginan yang dikenal melalui pengalaman dengan dunia sosial. Perhatian terhadap motif sosial muncul dari katalog kebutuhan (atau motif) yang disusun Henry Murray (1938), yang mencakup kebutuhan akan afiliasi atau keterhubungan, yakni motif untuk merasa cukup terhubung dengan orang lain. Kebutuhan ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan, dan pemulihan hubungan yang akrab, hangat, dan personal.

Hubungan Sosial
            Hubungan murid dengan orang tua, teman sebaya, kawan, guru dan mentor, dan orang lain dapat memengaruhi prestasi dan motivasi sosial mereka.

Sumber: Psikologi Pendidikan, John W. Santrock.  

Pendekatan Behavioral dan Kognitif Sosial

BAB 7
PENDEKATAN BEHAVIORAL DAN KOGNITIF SOSIAL

Apa yang Disebut Belajar dan yang Bukan
            Pembelajaran dapat didefenisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berfikir, yang diperoleh melalui pengalaman. Pembelajaran melibatkan perilaku akademik dan non-akademik. Pembelajaran berlangsung disekolah dan dimana saja di seputar dunia anak.
Pendekatan untuk Pembelajaran
            Telah ada pandangan tentang pendekatan untuk pembelajaran, di antara nya pendekatan kognitif dan behavioral.
            Behavioral adalah pendekatan pembelajaran. Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental.
            Kognitif dibagi menjadi empat yaitu, pendekatan kognitif sosial, pemrosesan informasi, konstruktivis kognitif dan konstruktivis sosial.


PENDEKATAN BEHAVIORAL UNTUK PEMBELAJARAN
Pengkondisian Klasik
            Adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli.
Pengkondisian Operan
            Adalah sebentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.
Hukum Efek Thorndike
            Menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa poerilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah.
Pengkondisian Operan Skinner
            Pengkondisian operan, di mana konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi, merupakan inti dari behaviorisme Skinner (1938).

Penguatan dan Hukuman
            Penguatan adalah konsekuensi yang menigkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan  terjadi.
            Hukuman adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Penguatan Positif dan Penguatan Negatif
            Penguatan Positif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding).
            Penguatan Negatif, frekuensi respon meningkat diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan).


ANALISIS PERILAKU TERAPAN DALAM PENDIDIKAN
Apa itu Analisis Perilaku Terapan?
            Analisis perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan: meningkatkan perilaku yang diinginkan, menggunakan dorongan dan pembentukan, dan mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.

Teori Kognitif Sosial Bandura
            Teori Kognitif Sosial menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan; faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya.

Pembelajaran Observasional
            Pembelajaran Observasional juga dinamakan imitasi atau modeling, adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.
Studi Boneka Bobo Klasik
            Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan Bandura (1965) mengilustrasikan bagaimana pembelajaran dapat dilakukan hanya dengan mengamati model yang bukan sebagai penguat atau penghukum. Eksperimen ini juga mengilustrasikan perbedaan antara pembelajaran dan kinerja.


Modal Pembelajaran Observasional Kontemporer Bandura
            Sejak eksperimen awalnya, Bandura (1986) memfokuskan pada proses spesifik yang terlibat dalam pembelajaran observasional. Proses itu adalah: atensi (perhatian), retensi, produksi dan motivasi.
•Atensi, sebelum murid dapat meniru tindakan model, mereka harus memerhatikan apa yang dilakukan atau dikatakan si model. Seoang murid yang terganggu oleh dua murid lainnya yang sedang bicara mungkin tak mendengar apa yang dikatakan guru. Atensi pada model dipengaruhi oleh sejumlah karakteristik.
•Retensi, untuk mereproduksi tindakan model, murid harus mengodekan informasi dan menyimpannya dalam ingatan (memori) sehingga informasi itu bisa diambil kembali. Deskripsi verbal sederhana atau gambar yang menarik dan hidup dari apa yang dilakukan model akan bisa membantu daya retensi murid.
•Produksi, anak mungkin akan memperhatikan model dan mengingat apa yang mereka lihat, tetapi karena keterbatasan dalam kemampuan geraknya, mereka tidak bisa mereproduksi perilaku model.
•Motivasi, sering kali anak memerhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan model, menyimpan infromasi dalam memori, dan memiliki kemampuan gerak untuk meniru tindakan  model, namun tidak termotivasi untuk melakukannya.

Sumber: Psikologi Pendidikan, John W. Santrock


Psikologi Pendidikan: Perangkat untuk Mengajar Secara Efektif

BAB I
PSIKOLOGI PENDIDIKAN : PERANGKAT UNTUK MENGAJAR SECARA EFEKTIF

SELAYANG PANDANG PSIKOLOGI PEDIDIKAN

Psikologi adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada vaa memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan adalah bidang yang sangat luas segingga dibutuhkan satu buah buku tersendiri untuk menjelaskannya. 

Latar Belakang Historis
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum abad ke-20. Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan. 

William James. Tak lama setelah meluncurkan buku ajar psikologinya yang pertama, Principles of Psychology (1890), William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah yang bertajuk "Talks to Teachers" (James, 1899/1993). Dalam kuliah ini dia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. James mengatakan bahwa eksperimen psikologi di laboratorium sering kali tidak bisa menjelaskan kepada kita bagaimana cara mengajar anak secara efektif. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak. 

John Dewey. Tokoh kedua yang berperan besar dalam membentuk psikologi pendidikan adalah Jhony Dewey (1859-1952). 

E. L. Thorndike. Perintis ketiga adalah E. L. Thorndike (1874-1949), yang memberi banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran dan perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah. 

Diversitas dan Psikologi Pendidikan Awal
Tokoh paling menonjol dalam sejarah awal psikologi pendidikan kebanyakan adalah pria    Kulit putih, seperti James, Dewey dan Thorndike. 


Perkembangan Lebih Lanjut
Pendekatan Thorndike untuk studi pembelajaran digunakan sebagai panduan bagi psikologi pendidikan di paruh pertama abad ke-20. Dalam ilmu psikologi Amerika, pandangan B. F. Skinner (1938), yang didasarkan pada ide-ide Thorndike, sangat memengaruhi psikologi pendidikan pada pertengahan abad ke-20. 

Mengajar: Antara Seni dan Ilmu Pengetahuan 
Bidang psikologi pendidikan banyak mengambil sumber dari teori dan riset psikologi yang lebih luas. 


CARA MENGAJAR YANG EFEKTIF
Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Hal ini membutuhkan dua hal utama yaitu, pengetahuan dan keahlian profesional dan komitmen dan motivasi.  

Pengetahuan dan Keahlian Profesional
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid-murid dari beragam latar belakang kultural. 

Penguasaan Materi Pelajaran
Ini juga membutuhkan pengetahuan tentang dasar-dasar pengorganisasian materi, mengaitkan berbagai gagasan, cara berfikir dan berargumen, pola perubahan dalam suatu mata pelajaran, kepercayaan tentang mata pelajaran, dan kemampuan untuk mengaitkan satu gagasan dari suatu disiplin ilmu ke disiplin ilmu lainnya. 

Strategi Pembelajaran
Prinsip konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey. Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun dan membangun (to construct) pengetahuan dan pemahaman. 

Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Instruksional
Guru harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu (Pintrich & Schunk, 2002). Mereka menghabiskan banyak waktu untuk menyusun rencana instruksional, mengorganisasikan pelajaran agar murid meraih hasil maksimal dari kegiatan belajarnya. 

Keahlian Manajemen Kelas
Aspek penting lain untuk menjadi guru yang efektif adalah mampu menjaga kelas tetap aktif bersama dan mengorientasikan kelas ke tugas-tugas. Guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif. 

Keahlian Motivasional
Guru yang efektif punya strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar (Boekaerts, Pintrich &Zeidner, 2000; Stipek, 2002). Para ahli psikologi pendidikan semakin percaya bahwa motivasi ini paling baik di dorong dengan memberi kesempatan murid untuk belajar di dunia nyata, agr setiap murid berkesempatan menemui sesuatu yang baru dan sulit. 

Keahlian Komunikasi
Keahlian komunikasi bukan hanya penting untuk mengajar, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orang tua murid. Guru yang efektif menggunakan keahlian komunikasi yang baik saat berbicara dengan murid, orang tua, administrator, dan yang lainnya.  

Bekerja Secara Efektif dengan Murid dari Latar Belakang Kultural yang Berlainan
Di dunia yang saling berhubungan secara kultural ini, guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda, dan sensitif terhadap kebutuhan mereka (Cushner, 2003; Johnson, 2002; Jhonson & Johnson, 2002; Spring, 2002). 


Keahlian Teknologi
Teknologi itu sendiri tidak selalu meningkatkan kemampuan belajar murid. Dibutuhkan syarat atau kondisi lain untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung proses belajar murid. Kondisi-kondisi antara lain visi dan dukungan dari tokoh pendidikan, guru yang menguasai teknologi untuk pembelajaran dan memandang anak sebagai pembelajar yang aktif dan konstruktif. 

Komitmen dan Motivasi
Menjadi guru yang efektif juga membutuhkan komitmen dan motivasi. Guru pemula sering kali melaporkan bahwa dibutuhkan investasi waktu dan usaha yang besar untuk menjadi guru yang efektif. Guru yang efektif juga punya kepercayaan diri terhadap kemampuan mereka dan tidak akan membiarkan emosi negatif melunturkan motivasi mereka.  


RISET DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Riset bisa menjadi sumber informasi berharga untuk memahami strategi mengajar. 

Mengapa Riset Itu Penting?
Riset yang memberikan informasi yang valid tentang cara terbaik untuk mengajar bisa membuat anda menjadi guru yang lebih baik. 

Pendekatan Riset Ilmiah 
Riset ilmiah adalah riset objektif, sistematis dan dapat diuji. Riset ilmiah mereduksi kemungkinan bahwa informasi didasarkan pada keyakinan, opini, dan perasaan personal. Riset ilmiah di landaskan pada metode ilmiah, sebuah pendekatan yang dapat di pakai untuk menemukan informasi yang akurat.  Pendekatan ini terdiri dari beberapa langkah: merumuskan masalah, mengumpulkan data, menarik kesimpulan, serta merevisi kesimpulan dan teori riset.

Pendekatan Ilmiah
Riset ilmiah adalah riset objektif, sistematis, dan dapat diuji. Riset ilmiah mereduksi kemungkinan bahwa informasi didasarkan pada keyakinan, opini, dan perasaan personal. Riset ilmiah dilandaskan pada metode ilmiah, sebuah pendekatan yang dapat dipakai untuk menemukan informasi yang akurat. Pendekatan ini terdiri dari beberapa langkah: merumuskan masalah, mengumpulakan data, menarik kesimpulan, serta merevisi kesimpulan dalam teori riset.
Metode Riset
            Ada tiga metode dasar yang dipakai untuk mengumpulkan informasi dalam psikologi pendidikan, yaitu deskritif, korelasional, dan eksperimental.
Riset Deskriptif
            Riset ini bertujuan untuk mengamati dan mencatat perilaku.


Observasi
            Observasi ilmiah dilakukan dengan cara yang sistematis. Observasi ini membutuhkan pengetahuan tentang apa yang anda amati, melakukan observasi dengan cara yang tidak mengandung bias, mencatat dan mengelompokkan apa yang dilihat.
Etnis dan Kultur
            Periset juga cenderung mempraktikkan ethnic gloss ketika mereka memilih dan mendeskripsikan kelompok etnis minoritas. Ethnic Gloss berarti menggunakan label etnis seperti Afro-Amerika, Latin, Asia-Amerika secara dangkal sehingga kelompok etnis tampak jauh lebih homogen ketimbang yang sebenarnya.


Sumber: Psikologi Pendidikan, John W. Santrock.

Minggu, 05 Maret 2017

Kamis, 02 Maret 2017

TUGAS MK PENDIDIKAN

TUGAS MK PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Kelompok 5:
Bagaimana pandangan dan penilaian anda sehubungan dengan kewajiban setiap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah psikologi pendidikan 2 SKS harus mempunyai email dan blog ditinjau dari uraian psikologi pendidikan dan fenomena pendidikan di Indonesia khususnya di Medan?

Mahasiswa Psikologi yang mengikuti Psikologi Pendidikan harus memiliki email dan blog karena beberapa alasan berikut menurut uraian Psikologi Pendidikan.
a. Kewajiban mahasiswa  psikologi mempunyai blog untuk diajarkan bradaptasi pada sistem pendidikan baru yang mulai berkembang di Indonesia. Mahasiswa juga dituntut berperan aktif dalam pengembangan blog sebagai salah satu sarana pembelajaran selain itu melalui blog mahasiswa juga dapat menyalurkan kreatifitas kedalam blog sehingga orang lain bisa menilai karya mahasiswa secara bebas. Mahasiswa juga bisa mendapatkan feedback-feedback yang akan sangat membantu mahasiswa dalam pengembangan karya tersebut dengan kata lain kreatifitas mahasiwa bisa semakin terpacu dengan adanya sistem pembelajaran melalui blog. Pelaksanaan ini mendukung teori John Dewey yang menekankan Psikologi Pendidikan pada keaktifan mahasiswa.
b.  Kewajiban mahasiswa psikologi mempunyai email juga tidak terlepas dari kaitan dengan perkembangan teknologi di  Indonesia. Dengan adanya email, mahasiswa dapat mengirimkan tugas tugas kepada dosen lebih efisien. Untuk mengumpulkan tugas mahasiswa tidak perlu lagi datang kekampus melainkan hanya duduk didepan laptop dan mengirimkan tugasnya. Selain itu email juga bisa membantu mahasiswa dalam pengerjaan tugas kelompok. Mahasiswa dapat berdiskusi dengan teman secara online tanpa tatap muka. Dalam pengerjaan tugas kelompok biasanya dilakukan pembagian tugas dan akan ada suatu waktu yang ditentukan untuk mengumpulkan semua tugasnya untuk digabungkan.  Dengan pengiriman tugas dengan email mahasiswa turut membantu melestarikan lingkungan dengan paperless.

Ditinjau dari fenomena pendidikan di Indonesia terutama di Medan :

            Di zaman yang sudah maju, orang-orang tidak dapat terlepas dari internet termasuk dalam dunia pendidikan terutama di Medan. Ini ditunjukkan dengan semkain banyaknya aktivitas pembelajaran menggunakan internet, seperti perkuliahan kita di Fakultas Psikologi USU pada MK Aplikasi Komputer dan Psikologi Pendidikan. Sehingga, pembuatan email dan blog menjadi langkah awal bagi mahasiswa agar tidak tertinggal dalam perkuliahan.

Minggu, 04 Desember 2016

Karangan Ilmiah

Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Ciri khusus dari karangan ilmiah yaitu harus ditulis secara jujur dan akurat berdasarkan kebenaran tanpa mengingat akibatnya (Brotowijoyo, 1985)

Karangan ilmiah yang baik baik dan benar dapat memberikan informasi mengenai bermacam-macam ilmu pengetahuan. Dalam penyampaian informasi tersebut digunakan bahasa yang mudah dipahami oleh para pembaca. Kegiatan penulisan karangan ilmiah akan melatih para intelektual menjadi lebih terampil mengembangkan ilmu pengetahuannya.

Jenis-jenis karangan ilmiah antara lain:

1. Makalah.
Makalah adalah suatu karya tulis ilmiah yang pendek dan sederhana, menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data dan fakta yang bersifat objektif.

2. Kertas Kerja.
Kertas kerja adalah suatu karya ilmiah yang disajikan dalam semianar lokakarya.

3. Skripsi.
Skirpsi adalah karya ilmiah yang ditulis oleh seorang mahasiswa sebagau syarat untuk memeroleh gelar sarjana.

4. Tesis.
Tesis adalah karya ilmiah yang mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri, yang memperbincangkan pengujian suatu hipotesis atau lebih oleh mahasiswa pascasarjana.

5. Disertasi.
Disertasi disajikan untuk memperoleh gelar doktor. Disertasi mengemukakan dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang valid dengan analisis yang padat dan padu.